Nisa dan Faris
sayapoker.com ... www.saranajudi.com
kedaijudi.com .www.1188poker.com
.agent303.com www.fansbetting.com
.www.sahabatpoker.com
judi online
kedaijudi.com .BursaBet.com
. www.fairbet88.com
www.skorbet99.com www.itcbet.com
.www.sports188.com
piala dunia 2014
www.pokerkiukiu.com .www.goal55.com
.www.indowinpoker.com
.www.iibcash.com
.klub303.com
www.pokervovo.com
www.bola54.com
Results 1 to 3 of 3

Thread: Nisa dan Faris

  1. #1
    Banci Tua thealvino's Avatar
    Bergabung
    Dec 2011
    Lokasi
    Sumatra
    Posts
    1,608
    Post Thanks / Like

    Nisa dan Faris

    togel online

    judilive.com
    Hujan mulai mereda menyisakan rintik yang jatuh perlahan-lahan. Keduanya berpelukan menikmati suasana dan sisa-sisa percintaan yang mulai mereda. Nisa tak mampu menatap Faris karena malu yang melandanya, hingga hanya menunduk dan menatap dada kekasihnya, sembari tersipu membenahi kaus ketatnya.

    “Aku siapin makan malam, ya… Kamu tunggu aja dulu, ya…”

    Nisa mengangguk. Sementara Faris menyiapkan makan malam, ia masuk ke kamar tidur tamu dan mengunci pintu rapat-rapat. Ia menatap dirinya di dalam cermin. Satu persatu pakaiannya ia lepas dan membiarkan tubuhnya yang telanjang terpampang bebas di dalam cermin. Ia menatap bagian-bagian yang tadi dieksploitasi oleh Faris dan menemukannya basah oleh ludah serta cairan-cairan lengket lainnya. Ia tersipu malu dan membasuh lagi semuanya di kamar mandi. Ia menggunakan sabun banyak-banyak karena keringatnya telah membasahi pakaiannya. Pakaian bekas ia masukkan ke keranjang cucian dan mengenakan pakaian tidur yang tersedia di lemari.

    Setelah percintaan yang melenakan Nisa barusan, gadis itu jadi mulai menyukai bentuk tubuhnya sendiri. Padahal sebelumnya ia merasa risih dengan pinggul dan payudaranya yang mulai membesar seperti ibunya. Ia juga risih dengan rambut yang mulai tumbuh di pangkal pahanya. Tapi kini Nisa tahu bahwa pria menyukai yang seperti ini. Dan ia berharap Faris akan makin mencintainya karena ia tumbuh sebagai wanita yang sempurna.

    Kalau beberapa waktu sebelumnya Nisa merasa risih dengan pakaian minim yang ia kenakan, kini ia justru sangat menyukainya. Rupanya Faris juga suka melihatnya seperti ini. Sehingga ia memutuskan mengenakan gaun tidur yang terbuka di bagian atas, yang hanya di tautkan ke pundaknya dengan tali kecil. Gaun itu berwarna ungu lavender, serta tidak terlalu panjang di bagian bawahnya. Paha dan betisnya yang putih jenjang nampak indah dibalut warna lavender gaun tidurnya. Kalung dan anting mutiara berkilauan di leher dan telinganya. Ia mematut diri di balik cermin dan sangat bangga memiliki kecantikan yang sangat alami.

    Makan malam berlangsung hangat dan romantis. Keduanya saling menyuapi, berbicara tentang banyak hal, dan berkali-kali ucapan Faris menjurus pada hubungan seks. Nisa malu-malu menanggapinya, dan terdiam jengah saat Faris menjelaskan bahwa orgasme bisa didapatkan melalui banyak cara. Tapi ia telah melalui wilayah terlarang itu, hingga mau tak mau harus belajar terbiasa dengan pembahasan seperti itu. Terlebih lagi beberapa waktu kemudian keduanya memutuskan untuk tidur bersama di atas satu ranjang, dan melanjutkan cumbuan mereka yang sempat terputus oleh makan malam.

    Seperti semua pemain pemula yang mau banyak belajar, Nisa pandai menepiskan rasa malunya dan mengikuti instruksi Faris yang senakal apapun. Ia pasrah ketika dirinya dijadikan boneka mainan kekasihnya, dan membiarkan semua bagian tubuhnya dicumbui habis-habisan oleh bibir dan tangan Faris. Leher dan bahunya merah-merah bekas pagutan, tapi ia tak peduli dan tetap membiarkan Faris melanjutkan permainannya.

    “Talinya aku lepas, ya!” Bisik Faris yang duduk di hadapannya. Dan ia hanya mampu menjawab dalam bisikan, “Terserah kamu aja…”

    Nisa melihat Faris tak ragu-ragu untuk melepaskan tali gaun di bahunya dan membiarkannya jatuh ke arah perut. Ia sendiri dapat melihat bagaimana BHnya dicampakkan ke atas ranjang, hingga dadanya benar-benar terbuka di hadapan kekasihnya. Ia sempat berusaha menutupi puting susunya yang mengacung, tapi tangan Faris menariknya dan mendorong tubuhnya agar berbaring. Ia telentang pasrah, menyaksikan kekasihnya berdecak kagum pada buah dadanya yang padat kencang. Puting susunya yang merah muda segera dilahap oleh kekasihnya, dan Nisa merasakan serangan kenikmatan itu datang lagi. Puting susunya kanan dan kiri dicumbu oleh mulut dan jari Faris, dan ia hanya mampu menjerit-jerit serta meremas seprai ranjang. Kegiatan itu berlangsung beberapa menit, sampai Faris melepaskannya saat kedua puting itu makin mengacung tegak serta basah oleh ludah.

    “Oh… Paha kamu indah sekali! Halus… Mulus…” Nisa menatap Faris yang berdecak kagum saat memandangi kedua pahanya. Ia sendiri memang bangga dengan pahanya, tapi tak dapat membayangkan bahwa pria akan sedemikian bernafsunya melihat paha perempuan yang terbuka. Tapi keheranannya tak lama, karena darahnya berdesir saat kedua tangan Faris mulai mengelus-elus pahanya itu, dari lutut… Terus ke arah dalam. Roknya makin tersingkap, terus terbuka…

    “Boleh, kan?”

    “Mmmmhhh…”

    Gaun tidur Nisa tergulung ke atas hingga melewati batas perutnya. Pusarnya terlihat jelas. Celana dalamnya terpampang lebar. Faris mulai menyentuhnya dengan kelembutan yang melenakan. Nisa menggelinjang saat Faris menjilati dan menggelitiki pusarnya dengan ujung lidah. Ia menggeliat-geliat seperti cacing kepanasan. Wajahnya semerah udang rebus. Mulutnya menganga mengeluarkan rintihan panas. Jilatan dan elusan Faris makin terpusat ke satu titik. Dengan tarikan lembut di bagian kanan dan kiri, tali CD Nisa terlepas hingga Faris leluasa membukanya. Pria itu berhenti untuk berdecak kagum, memandangi rambut-rambut halus di sebuah bukit indah yang hangat dan masih sangat rapat.

    Nisa masih perawan, dan bagian itu tak pernah tersentuh siapapun selain dirinya sebelumnya. Daerah itu putih bersih dan terawat, namun menjadi merah muda dan ‘berumput’ di bagian tengahnya. Bagian lubang lebih seperti sebuah garis lurus. Tentunya perlu perjuangan ekstra keras jika ingin menemukan lubang yang tepat, dan bertambah keras lagi untuk dapat menembusnya.

    Tapi tentu saja bukan itu yang akan dilakukan Faris sekarang. Nisa pasti akan berontak jika hal itu dilakukan terlalu terburu-buru. Sekarang saja paha Nisa telah merapat dengan ketat, dan kedua tangannya berusaha menutupi keterbukaannya. Gadis itu merengek-rengek pada kekasihnya,

    “Jangan, Faris… Nisa malu… Nisa takut…”

    “Memangnya kenapa?”

    “Pokoknya jangan…”

    “Aku nggak akan apa-apain, kok… Cuma lihat saja… Sebentar, ya…”

    “Jangan Faris…”

    Nisa merengek setengah menangis. Ia agak takut membayangkan apa yang akan terjadi pada dirinya. Tapi Faris terus meyakinkannya bahwa ia tidak akan menodai Nisa. Ia hanya akan melihatnya sebentar saja. Nisa sungguh bodoh karena mempercayai ucapan pria itu. Tak mungkin Faris menelanjanginya jika hanya ingin melihat saja. Tapi itulah yang terjadi pada Nisa. Meski berkali-kali merapatkan kaki, ia akhirnya menuruti permintaan kekasihnya dan mengijinkan Faris melakukan apa yang ia inginkan. Ia hanya menunggu dengan berdebar, dengan tubuh yang sangat gelisah dan nafas terengah-engah, ketika wajah Faris tepat berada di depan kemaluannya. Tangan lelaki itu menggenggam tangannya dan menyingkirkannya ke samping, dan ia tak tahu harus melakukan apa lagi.

    “Apa kubilang?! Punyamu ini bagus sekali! Indah! Masih perawan… Kenapa kamu harus malu, sayang? Aku kan kekasihmu… Calon suamimu…”

    Mungkin itu semacam mantra sihir bagi Nisa. Gadis itu sejenak lupa ketelanjangannya saat Faris mengucapkan kata ‘suami’. Suami berarti pernikahan. Dan apa yang harus dirahasiakan dari dua orang yang sudah menikah? Bukankah hal semacam ini toh nanti akan ia lakukan juga?

    Muka Nisa bersemu merah menerima sanjungan itu. Matanya menatap sayu, dan merasa nyaman akan belaian Faris di paha putihnya. Faris sungguh baik karena selalu meminta izin untuk melakukan berbagai hal. Ia tentu saja harus mengizinkannya, karena Faris adalah orang yang paling ia cintai di dunia ini. Ia harus mengizinkan bila ternyata Faris tidak sekedar melihat miliknya itu, melainkan menyentuh dan membelainya dengan ujung jarinya.

    “Aaah… Aahhh… Risss…. Kamu jangan…. Ohh…”

    Ucapan Nisa terpotong erangannya sendiri. Bagaimanapun belaian di pangkal pahanya telah membuatnya belingsatan. Faris telah menarik sebuah bantal besar dan meletakkannya di bawah pantatnya. Pahanya direnggangkan, sangat lebar hingga ia terpaksa mengangkang, semementara lelaki itu menelusuri pahanya dengan ciuman-ciuman basah. Makin ke pangkal dan menjilatinya dengan ujung lidah.

    Duh Mama… Seandainya aku tahu kenikmatan ini sejak dulu…, Nisa membatin dalam penderitaannya menerima cumbuan Faris. Lelaki itu memadukan jilatan lidah, hisapan mulut dan gelitikan jari jemari hingga membuatnya benar-benar setengah gila. Erangannya telah memenuhi seluruh kamar, dan remasan tangannya telah mengacak-acak seprai ranjang.


    Faris adalah tipe pria yang sabar dan telaten. Ia seakan tahu titik-titik mana yang paling membangkitkan gairah Nisa, hingga Nisa tak peduli lagi pada aturan serta etiket yang pernah melekat erat dalam hidupnya. Tak ada lagi Nisa si gadis santun. Yang ada hanyalah gadis 16 tahun yang tengah dimabuk cinta, setengah telanjang di atas ranjang di kamar orang, dengan seorang pria asyik memagut-magut klitoris di pangkal kewanitaanya.

    Jika ini sejenis penyiksaan, maka ini adalah penyiksaan yang paling menyenangkan. Cairan vagina Nisa telah membanjir, dan paha putihnya terus mengejang-ngejang akibat kontraksi hebat. Ia menjepit kepala Faris kuat-kuat, saat orgasme kembali melanda tubuh remajanya. Letupan hebat membuat pantatnya terangkat naik, membawanya mencapai puncak dengan kepuasan yang sempurna.

    Malam telah larut ketika Nisa terbaring tenang di atas ranjang. Tubuhnya masih telanjang dan gaun tidurnya masih melilit di perut rampingnya. Ia menikmati sisa-sisa letupan, sesaat lupa pada Faris yang berada di hadapannya. Kesadarannya kembali ketika Faris memanggilnya,

    “Nisa, kamu senang?”

    Ia menatap kekasihnya yang kini berbaring menghadap dirinya. Ia mengangguk lemah seraya tersenyum. Ia merasa makin cinta kepada Faris. Ketampanan pria itu benar-benar memesonanya, dan sentuhannya telah memabukkan dirinya.

    “Kamu mau, kan, gantian membahagiakanku?”

    “Tentu saja, sayang! Apapun yang kamu mau, akan Nisa lakukan.”

    “Benar?”

    “Iya…” Suaranya serak akibat erangan-erangan tadi.

    “Kalau gitu, kamu cumbu aku, ya…” Sembari mengatakan itu, Faris menarik tangan Nisa yang telanjang dan mengusapkannya ke balik celananya sendiri. Tentu saja Nisa tersentak dan menarik tangannya cepat. Ia mendapati sebuah benda keras menyembul di balik celana Faris, sesuatu yang ia tahu tapi tak pernah ia lihat secara langsung.

    “Ris… A.. Apa yang mesti Nisa lakukan?”

    “Seperti yang telah aku lakukan kepadamu barusan.” Faris kembali menarik tangan Nisa yang gemetar. Ia mengelus-eluskan tangan hangat itu ke kemaluannya.

    “Ta… Tapi…” Nisa sangat gelisah karena mendapati benda itu makin mengeras akibat sentuhannya. Terasa panas di telapak tangannya. Sentuhan seperti inikah yang disukai seorang pria?

    Faris tak menunggu jawaban dari dirinya. Lelaki itu begitu rileks saat melucuti pakaiannya sendiri, hingga benar-benar telanjang di hadapan sang perawan. Nisa sempat menutup wajah saat menyaksikan benda yang tadi ia sentuh kini mengacung tepat ke hadapannya. Bentuknya besar dan panjang, dan terlihat lebih hitam dibanding tubuh Faris yang lain. Inikah yang disebut kemaluan laki-laki? Benda inikah yang dirindukan sekaligus ditakuti banyak wanita? Nisa tak berani membayangkan seandainya Faris meminta lebih semisal hubungan seks yang sesungguhnya.

    “Ayolah sayang!” Nisa tak bisa berpikir lama karena Faris kini mulai menariknya agar duduk bersimpuh. Sedangkan Faris sendiri berdiri tegak di atas ranjang, hingga penis itu kini berada tepat di depan wajahnya. Nisa meringis dan salah tingkah, tak tahu harus berbuat apa. Ia memasrahkan semuanya pada kekasihnya, yang ternyata menarik tangannya agar menggenggam kemaluan yang kekar itu. Nisa kini tahu apa yang diinginkan oleh Faris.

    Esoknya Nisa bangun kesiangan. Hampir tengah hari saat ia membuka mata dan mendapati tubuhnya sangat letih. Faris masih nyenyak di sebelahnya—bagian bawah tubuh telanjang pria itu tertutup selimut. Ia menatapnya dengan pandangan sayang, mengenang percintaan mereka yang sangat membara malam tadi. Entah berapa kali Faris membuatnya mengalami orgasme, dan entah berapa kali pula ia memberikan Faris kepuasan yang sama dengan mulut dan jemarinya.

    Nisa tersenyum geli mengingat satu peristiwa di malam tadi. Waktu itu Faris memintanya untuk naik ke atas tubuhnya dengan posisi membalik. Dengan posisi itu ia mencumbu penis Faris, sedangkan Faris mencumbui vaginanya. Faris menamainya posisi 69—sebuah nama yang sangat lucu, yang ternyata sangat mengasyikan. Tentu saja Nisa tak tahu bahwa posisi itu sangat populer belakangan ini, tapi ia memang tidak tahu apa-apa sampai ketika Faris mengajari banyak hal malam tadi
  2. # ADS
    Circuit advertisement
    Bergabung
    Always
    Lokasi
    Advertising world
    Posts
    Many
    BursaBet
     

Tags for this Thread

Judi Online   Taruhan Bola Online   188bet.com
www.zonajudi.com

pasang iklan

www.nusa21.com
www.bintangbola.com

globalbola.com